Nias Selatan,
//portalsumuttabagsel.com||- Kabupaten Nias Selatan memiliki sejarah panjang dalam kepemimpinan, dengan semboyan “TAOLIKHE GAWONI TAOLAE GULO NASI” yang berarti “Perjuangan adalah Jalan Menuju Kesejahteraan Rakyat”. Wilayah ini terdiri dari 459 desa, 35 kecamatan, dan 2 kelurahan, setelah resmi menjadi kabupaten terpisah pada tahun 2003 melalui proses yang tidak mudah, bukan sebagai “hadiah” melainkan hasil perjuangan yang menyertai dengan aksi demonstrasi dan pengorbanan dari masyarakat.
Masa Kepemimpinan Alm. F. Laia dan Alm. Hd. Manao (2007)
Pada masa kepemimpinan Bupati Alm. F. Laia dan Ketua DPRD Alm. Hd. Manao, Kabupaten Nias Selatan dikenal mengalami perkembangan yang signifikan. Pada periode ini, bantuan dari berbagai Organisasi Non-Pemerintah (NGO) serta lembaga seperti Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) sangat besar, terutama setelah terjadi gempa bumi yang melanda wilayah tersebut.
Pembangunan sektor pendidikan juga menjadi fokus utama, terbukti dengan dibangunnya gedung Kantor Dinas Pendidikan yang megah di Km. 7. Namun, hingga saat ini gedung Kantor Bupati belum selesai dibangun, dan masih menjadi pertanyaan mengenai lokasi yang tepat untuk ibu kota kabupaten serta keaslian konsep pembangunan kantor bupati tersebut.
Selain itu, masa kepemimpinan ini juga dikenal sering diwarnai dengan aksi demonstrasi skala besar, bahkan hingga mengarak peti mati keliling Kota Teluk Dalam. Beberapa kalangan juga mengungkapkan adanya pergantian kepemimpinan yang tidak sesuai prosedur, dengan klaim “dokumen resmi yang seharusnya menjadi dasar hanya berada di bawah meja”.
Masa Kepemimpinan dengan Latar Belakang SMA
Pada periode kepemimpinan berikutnya, diduga pemimpin legislatif berasal dari latar belakang tamatan SMA Paket C, Kabupaten Nias Selatan mengusung program untuk mencegah korupsi dengan mengedepankan peran lembaga kemasyarakatan. Tahun 2010 menjadi tonggak penting dengan diluncurkannya program biaya pendidikan gratis hingga jenjang kuliah.
Program ini memberikan dampak positif, di mana masyarakat Nias Selatan dari berbagai desa dan kecamatan mendapatkan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, dengan banyak dokter yang tamat dari luar daerah memilih untuk berkontribusi di sini, salah satunya adalah Mari Sipature Huta Nabe. Pada masa ini juga dilakukan pengangkatan sebanyak 5.000 orang sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan dibangunnya gedung mewah yang direncanakan sebagai pusat ibu kota kabupaten, yang kemudian dikenal dengan nama “ISTNAH RAKYAT”.
Pemimpin pada periode ini menggunakan semboyan “SIWA SANUWU SIHONO” (Bekerja Keras Tanpa Kenal Lelah), meskipun beberapa kalangan menyebutkan bahwa pembangunan terkadang terasa “sabar menanti”.
Periode Kedua dengan Latar Belakang Ahli Hukum
Pada periode kedua kepemimpinan yang dipegang oleh para ahli hukum, semboyan “BOI TALULU TA BE KHONIA SAKALITO” (Kerja Sama Menuju Keadilan) diangkat sebagai pedoman. Namun, selama 10 tahun kepemimpinan, pembangunan gedung Kantor Bupati yang direncanakan di Km. 3 Lawayo hanya mencapai tahap pembukaan lahan dengan anggaran puluhan milyar rupiah, dan proses pembangunan tidak berlanjut.
Salah satu pembangunan yang menjadi sorotan adalah WALO GREN, di mana jalan masuk wilayah tersebut dibangun menjadi dua jalur dan dipasangi lampu hias dengan anggaran yang diperkirakan mencapai ratusan milyar rupiah. Masyarakat mengajukan pertanyaan mengenai sumber dana pembangunan WALO GREN, serta status kepemilikannya – apakah PMDA atau milik masyarakat Kabupaten Nias Selatan.
Masa Kepemimpinan Saat Ini dengan Latar Belakang Pendidikan Tinggi
Pada masa kepemimpinan saat ini, di mana lembaga legislatif dipegang oleh para tokoh dengan latar belakang pendidikan tinggi, disampaikan pesan bahwa “Kita Jangan Menjadi Gunting yang Merusak, Nias Selatan Adalah Rumah Kita Bersama”. Masyarakat kini menantikan terwujudnya perubahan yang dijanjikan, terutama terkait pembangunan lapangan pesawat yang telah diberi nama Bandara Silambo. Setelah hampir dua tahun kepemimpinan berjalan, masyarakat Kabupaten Nias Selatan mengajukan pertanyaan mengenai perkembangan pembangunan tersebut dan kondisi umum wilayah yang disebut sebagai “rumah bersama”. Sp.Sarumaha.












